Percakapan disuatu Restoran

Percakapan disuatu Restoran

Disalah satu sudut restoran terkenal di daerah Sudirnan Jakarta, duduk seorang wanita dewasa cukup umur menggunakan setelan blouse hitam ketat dengan dua kancing bagian atas yang sengaja terbuka dan celana jeans biru dongker dengan sejumlah aksesoris yang menggantung dileher dan tangan.

 

Sepatu hitam dengan high heels 10 cm menjadikannya terlihat lebih elegan dan trendi jika harus dibandingkan dengan usianya. Tampaknya wanita ini memang rajin merawat diri dan mengikuti perkembangan mode sehingga penampilannya benar-benar terlihat apik dimata walaupun usianya sudah tidak muda.

 

Tangan kirinya memegang sebuah smartphone masa kini dengan tipe terbaru sedangkan tangan kirinya dibiarkan memainkan sendok teh diatas cangkir dengan gerakan memutar sehingga bisa terdengar suara denting sendok yang beradu dengan cangkir.

 

Dari arah pintu restoran datang seorang pemuda menggunakan kemeja kotak-kotak warna hijau dengan kaos putih didalamnya dan celana panjang serta sepatu sport warna putih. Terlihat masih sangat muda.

 

Ditangan kanannya, dia menggenggam smartphone tipe terbaru sambil menekan tombol huruf dan sesekali matanya mencari-cari sosok seseorang yang sedang dia tunggu ke seluruh ruangan.

 

Kakinya melangkah kearah wanita dewasa yang duduk disudut ruangan tersebut. Mata mereka saling menyambut diiringi senyuman lebar menghias bibir merekea. Sebuah kecupan hangat mendarat dikedua pipi wanita itu. Lalu pemuda tersebut duduk dihadapannya.

 

Dan sedikit percakapan terjadi diantara mereka sampai sebelum dering telepon masuk dari ponsel mereka berbunyi.

 

“Halo Pap”, jawab wanita kepada suara seorang diujung telepon dengan sumringah.

 

“Ya Pa”, suara sang pemuda dengan intonasi yang terdengar malas menjawab.

 

“Aku lagi di café nunggu Jeng Tika mau ke salon”

 

“Aku ga mau pulang”

 

“Cuma pesan teh aja kok, aku udah makan tadi dirumah”.

 

“Papa ga usah repot mikirin aku, kau udah gede bisa hidupin diri sendiri tanpa harus lagi dicekokin sama Papa and Mama”.

 

“Si Bibi yang buatin nasi goreng. Papi udah makan belum?Jangan keasyikan kerja terus dong Pap”.

 

“Aku udah gede Pa, kerja apapun bisa. Udahlah Papa ga usah ngurusin aku, urusin aja urusan Papa sama Mama yang ga pernah berhenti berantem”.

 

“Makan sama siapa Pap?”.

 

“Buat apa aku pulang?buat ngedenger and ngelihat orang berantem terus tiap hari?”.

 

“Ga sama perempuankan?Bisa ajakanPapi jauh disana dan bisa cari perempuan buat temenin Papi makan dan senang-senang”.

 

“Aku akan pulang kalau aku mau pulang”.

 

“Iya aku percaya aja deh sama Papi. Oh ya Pap, kapan mau beliin aku perhiasan yang waktu itu? Si Jeng Ratih udah punya tuh Pap akukanjuga ga mau ketingalan”.

 

“UdahlahPa, dari pada urusin aku mendingan Papa urusin Mama atau urusin selingkuhan-selingkuhan kalian”.

 

“Lho terus Papi kerja buat siapa kalo bukan buat aku?makanya aku minta macem-macem sebagai ganti Papi yang jarang pulang”.

 

“Silahkan Papa mau bilang aku apa aja, silahkan Pa!”. Sang pemuda tersebut beranjak dari tempat duduknya dan memilih berdiri disudut ruangan dekat kursi yang dia duduki tadi.

 

“Sebagai ganti aku yang kesepian. Yang pentingkanaku ga main lelaki disini”.

 

“Ga usah sok lembut dan sok nasehatin aku karena Papa juga harusnya butuh dinasehatin”.

 

“Lho Papi ga percaya?. Setiap hari aku cuma hidup bareng si Bibi dan anjing kita Cipi”.

 

“Aaaggghhh DAMN!”. Sang pemuda tersebut memutus pembicaraannya ditelepon. Wajahnya tampak marah dan kesal. Diremasnya telepon genggamnya dengan kasar. Dia duduk kembali dikursi tadi lalu memberi isyarat kepada waitress untuk membawakan air.

 

Tampak sang wanita masih asyik dengan perbincangannya ditelepon. Tak lama wajahnya memberi isyarat kepada sang pemuda yang duduk dihadapannya untuk tidak bersuara. Dan sang pemuda tersebut menurutinya dan tertunduk dengan kedua tangan menjenggut rambut style nya.

 

Tangan si wanita kemudian meraih tangan pemuda tersebut sambil tetap melakukan percakapan diujung telepon.

 

“Iya dong Papi harus percaya sama aku. Si Cipi baik-baik aja kok Pap. Oh ya Papi kalo pulang jangan lupa beliin baju Cipi yang lucu ya disana”.

 

Dering telepon masuk berkali-kali berbunyi dari ponsel sang pemuda tapi berkali-kali juga sang pemuda menolak panggilan tersebut.

 

Sambil tetap memperhatikan sang pemuda, wanita itu tetap melalukan percakapan dan seperti ingin segera mengakhiri percakapannya.

 

“Iya Pap. Papi pulang kapan? Kalo pulang kabarin dulu ya, ga usah kasih surprise-surprise segala. Ok Pap?. Ya udah Pap Jeng Tika nya udah datang nih. Papi jangan nakal ya disana, jangan lupa makan dan cepet pulang ya Pap. Daaaahh Papi. Muuaahhh”. Suara kecupan diberikan sang wanita tersebut melalui speaker ponsel untuk seorang diujung teleponsana, kemudian ponsel tersebut diputusnya cepat-cepat.

 

Kedua tangannya kini meraih tangan sang pemuda. Matanya menatap memelas dan kemudian berubah menjadi tatapan nakal.

 

“Kamu ga usah pikirin masalah kamu dulu ya. Sekarang saatnya kita bersenang-senang”. Mimik muka yang menggoda dikeluarka oleh wanita tersebut untuk menghibur sang pemuda.

 

Diraihnya tas dari kursi sebelah dan tangan satunya menarik tangan sang pemuda yang masih duduk menunduk dengan sejumlah masalah yang membebani pikirannya untuk mengikutinya pergi meninggalkan restoran.

 

Mereka menuju sebuah mobil berwarna silver yang terparkir diarea parkir restoran. Lalu mereka masuk kedalam mobil dan terjadi percakapan singkat diantara keduanya. Perlahan namun meyakinkan tangan sang wanita meraih wajah sang pemuda sambil mendekatkan bibir meronanya ke bibir sang pemuda. Mereka berciuman hangat dan penuh gairah seakan tak peduli lagi bahwa mereka masih berada diarea publik.

 

Setelah hasrat mereka terselesaikan, sang pemuda perlahan menancap gas dan meninggalkan restoran menuju suatu tempat, entah dimana, untuk mewujudkan ucapan sang wanita tadi, ya untuk bersenang-senang.

 

Karena Kata, Kalimat Ada

Karena Kata, Kalimat Ada

Malam itu Kalimat marah kepada Kata, “Kamu harus mengertiku dan melengkapiku hingga aku bisa menjadi penuh makna”.

Tapi Kata hanya diam mendengarkan Kalimat yang tengah marah terhadapnya.

“Kata!!!kenapa kau diam saja?”, Kalimat semakin marah. Tapi Kata tetap diam.

Kata tidak mampu berbicara dan tidak tahu harus berbuat apa. Ia tidak tahu harus memberikan kata-kata apa yang bisa menjadikan Kalimat terlihat sempurna.

Kalimat memang terdengar egois karena memaksa Kata melengkapinya tanpa memperhatikan masalah yang dihadapi Kata.

“Kalimat, aku hanyalah sebuah kata, sebuah kata yang akan terus melengkapimu sampai tidak ada batas. Tapi Kalimat, alangkah egoisnya aku jika aku hanya memberikanmu kata-kata sembarang yang akan mejadikanmu seperti debu, muncul lalu hilang diterpa. Aku tidak ingin membuatmu kecewa karena kata yang aku berikan tak memberikan makna. Aku ingin mejadi pelengkapmu hingga kau bisa menjadi sebuah Kalimat indah”.

Yang tadinya terlihat marah, sekarang Kalimat terlihat melembut.

“Tapi Kalimat, tidakkah pernah kau berpikir betapa susahnya aku memilih kata untukmu agar kau menjadi indah?”.

Kalimat terlihat menunduk seakan mulai menyadari keegoisan yang selama ini dia lakukan.

“Kalimat, apalah artinya kamu tanpa ada Kata? tapi juga apalah artinya Kata jika tanpa Kalimat?”.

Kalimat memandang kearah Kata yang sedang menatapnya lembut sambil perlahan meraih tangan Kalimat.

“Kata akan selalu ada menjadi pelengkap Kalimat sekalipun Kalimat tidak dipandang dan hilang tak berbekas”.

(di malam minggu yang #galau)
the geblek’z
261111